Kamis, 19 September 2024

Kepemimpinan untuk Perbaikan Layanan yang Berkelanjutan


Kepemimpinan Kepala Sekolah berperan penting untuk memandu seluruh warga sekolah dalam meningkatkan layanan pendidikan secara berkelanjutan dan bersama-sama.

Memiliki visi pembelajaran yang jelas dan berkolaborasi bersama warga sekolah untuk mencapainya.
Berikut adalah ciri sekolah dengan pemimpin yang mampu mengelola pencapaian visi misi:
  • Mengembangkan kurikulum dan program kerja sekolah yang selaras dengan visi misi dan memenuhi kebutuhan belajar murid.
  • Menyampaikan visi misi kepada seluruh warga sekolah, mendorong pembentukan nilai dan budaya bersama.
  • Berkolaborasi dengan orang tua/wali murid dan masyarakat, termasuk Dunia Usaha dan Dunia Industri, untuk mencapai visi misi sekolah.
  • Memimpin evaluasi secara berkala terhadap penerapan visi misi melalui peninjauan hasil pelaksanaan program kerja sekolah
Terus menerus melakukan perbaikan berkelanjutan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Berikut adalah ciri sekolah dengan pemimpin yang mampu melakukan perbaikan berkelanjutan melalui pembelajaran:
  • Memimpin perencanaan kurikulum di tingkat satuan sebagai acuan untuk pembelajaran yang diikuti oleh seluruh warga sekolah
  • Memimpin evaluasi penerapan kurikulum setiap tahun untuk memastikan relevansinya dengan kebutuhan belajar murid
  • Menggunakan berbagai sumber data, termasuk umpan balik dari pendidik, tenaga kependidikan, murid, dan orang tua dalam proses evaluasi
Senantiasa merencanakan dan melakukan peningkatan kompetensi SDM termasuk dirinya sendiri.
Berikut adalah ciri sekolah dengan pemimpin yang mendukung upaya peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan di sekolahnya:
  • Mendukung pendidik dan tenaga kependidikan dalam melakukan refleksi dan evaluasi kinerja secara rutin untuk meningkatkan layanan
  • Mengamati kinerja pendidik dan tenaga kependidikan untuk memahami kebutuhan belajar mereka secara lebih mendalam
  • Menyediakan dukungan dan program yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
  • Melakukan refleksi diri dalam rangka meningkatkan kompetensi kepemimpinannya sehingga dapat lebih efektif dalam memimpin upaya peningkatan kualitas pembelajaran
Pengelolaan sumber daya sekolah sesuai perencanaan, transparan dan akuntabel.
Berikut adalah ciri sekolah dengan pemimpin yang mengelola sumber daya sekolah sesuai perencanaan, transparan, dan akuntabel:
  • Merencanakan kegiatan tahunan yang memprioritaskan perbaikan pembelajaran dan peningkatan kompetensi pendidik serta tenaga kependidikan
  • Melaksanakan pengelolaan anggaran sekolah dengan transparan, sesuai dengan rencana yang mendukung perbaikan layanan
  • Menyusun rencana anggaran yang detail dengan menampilkan sumber dan alokasi dana secara jelas
  • Melaporkan secara berkala pengelolaan anggaran kepada pemangku kepentingan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas
Semoga Bermanfaat

Label:

Iklim Sekolah yang Aman, Inklusif, dan Merayakan Kebinekaan

Iklim lingkungan belajar yang memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi seluruh warga sekolahnya serta membangun sikap positif terhadap keberagaman.

Keamanan (aman dari intoleransi, kekerasan, dan zat berbahaya)
Berikut adalah ciri sekolah yang memiliki lingkungan yang aman dari intoleransi, kekerasan dan zat berbahaya:
  • Membentuk program, tim, dan mekanisme untuk mencegah dan menangani isu keamanan yang dapat menjadi rujukan bagi seluruh warga sekolah
  • Membekali pendidik dan tenaga kependidikan dengan kemampuan untuk mencegah dan menangani berbagai isu keamanan
  • Melibatkan orangtua/wali murid dalam pencegahan dan penanganan isu keamanan
  • Menjamin keselamatan murid dengan mengawasi dan memelihara bangunan serta lingkungan sekolah secara berkala
Inklusivitas
Berikut adalah ciri sekolah yang memiliki lingkungan belajar inklusif:
  • Mengakomodasi beragam kebutuhan belajar murid melalui kebijakan dan/atau prosedur yang tepat
  • Meningkatkan pemahaman dan kompetensi pendidik serta orang tua/wali murid dalam memfasilitasi kebutuhan belajar murid
  • Menyediakan fasilitas dan layanan yang ramah bagi murid berkebutuhan khusus
Kebinekaan
Berikut adalah ciri sekolah yang memiliki lingkungan belajar yang bineka:
  • Memahami dan menghargai keberagaman
  • Membangun sikap positif terhadap keberagaman melalui kegiatan pembelajaran dan program sekolah
  • Menghargai keberagaman pendidik, tenaga kependidikan, dan murid melalui kebijakan yang inklusif
Semoga Bermanfaat

Label:

Pendidik Reflektif, Gemar Belajar, Berbagi dan Berkolaborasi


Pendidik memahami manfaat dari penerapan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan serta belajar bersama sebagai suatu strategi untuk meningkatkan kompetensi dirinya serta kualitas pembelajaran yang diterima oleh muridnya.

Refleksi Pembelajaran
Berikut adalah ciri sekolah dengan pendidik yang terbiasa melakukan refleksi pembelajaran:
  • Melihat kegiatan mengajar sebagai kesempatan untuk belajar dan pengembangan diri
  • Melakukan refleksi secara rutin terhadap pelaksanaan pembelajaran
Belajar tentang Pembelajaran
Berikut adalah ciri sekolah dengan pendidik yang terbiasa belajar tentang pembelajaran:
  • Mencari sumber belajar yang relevan secara terbuka
  • Memanfaatkan komunitas belajar untuk meningkatkan kompetensi serta berbagi pengetahuan dan pengalaman
Penerapan Praktik Baru
Berikut adalah ciri sekolah dengan pendidik yang terbuka untuk menerapkan praktik baru:
  • Mencoba praktik baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
  • Berkreasi dalam menyajikan pengalaman belajar yang terbaik bagi peserta didik
Semoga Bermanfaat

Label:

Pembelajaran yang Berpusat Pada Murid


Pendidik mampu menyediakan proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, melalui interaksi aktif dan empatik, serta memperhatikan kebutuhan belajar murid.

Perencanaan Pembelajaran
Berikut adalah ciri sekolah yang memiliki perencanaan pembelajaran yang efektif:
  • Mengembangkan kurikulum satuan pendidikan yang sesuai kebutuhan belajar murid dan selaras dengan Kurikulum Merdeka
  • Menjadikan kurikulum di tingkat satuan menjadi rujukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas
  • Merencanakan pembelajaran di kelas yang bertujuan untuk memandu proses belajar agar lebih efektif
  • Menyusun rencana pembelajaran yang menjabarkan tujuan pembelajaran, strategi kegiatan pembelajaran, strategi asesmen untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai
Pelaksanaan Pembelajaran dan Asesmen
Berikut adalah pembelajaran dan asesmen di kelas yang kita inginkan:
  • Memahami kompetensi yang perlu dicapai murid dan mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran.
  • Memfasilitasi proses belajar yang mendorong murid untuk merefleksikan keterhubungan materi dengan kehidupan nyata.
  • Membangun kepercayaan diri murid dalam mengutarakan dan mengkritik ide, berani mencoba dan berkarya, serta berbagi pengetahuan.
  • Menciptakan proses belajar yang interaktif dan menumbuhkan kecintaan murid terhadap ilmu dan proses belajar itu sendiri.
  • Menerapkan asesmen yang menghargai keragaman laju perkembangan murid tanpa memberikan label.
Manajemen Kelas
Berikut adalah ciri sekolah yang menerapkan manajemen kelas dengan baik:
  • Membangun suasana belajar yang fokus sehingga murid optimal dalam mendapatkan manfaat belajar
  • Menghindari tindakan agresif, baik verbal maupun non-verbal, dalam mengelola perilaku siswa
  • Menyusun kesepakatan belajar secara partisipatif bersama murid
Dukungan Sosial Emosional
Berikut adalah ciri sekolah yang memberikan dukungan sosial emosional bagi murid:
  • Membangun kepercayaan diri murid untuk terus berusaha mengembangkan dirinya
  • Menjaga interaksi yang setara dan saling menghargai antara pendidik dan murid
  • Memberikan perhatian dan bantuan ekstra kepada murid yang memerlukan dukungan lebih banyak dari yang lain
  • Memberikan umpan balik terhadap hasil karya dan perilaku murid secara konstruktif
Semoga Bermanfaat

Label:

Sekolah yang kita cita-citakan


Sekolah yang kita cita-citakan dapat diwujudkan dengan melakukan pembelajaran yang berpusat pada murid, pendidik yang reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi, iklim sekolah yang aman, inklusif, dan merayakan kebinekaan, serta kepemimpinan untuk perbaikan layanan berkelanjutan.

Kompetensi dan karakter murid yang ingin kita bangun bersama
Di sekolah yang baik, semua murid punya kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan karakter yang mereka perlukan untuk menjadi pelajar sepanjang hayat dengan nilai-nilai Pancasila. Kompetensi dan karakter ini mencakup kemampuan literasi dan numerasi, keimanan ketakwaan dan akhlak mulia, nalar kritis, kreativitas, gotong royong, kebinekaan, dan kemandirian.

Bagaimana kompetensi dan karakter ini dibangun melalui pembelajaran?

Kompetensi dan karakter dibangun secara berkesinambungan mulai dari PAUD hingga jenjang pendidikan menengah. Pengembangan kompetensi dan karakter bersifat fleksibel. Artinya, pengembangan kompetensi menyesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, karakteristik sekolah, serta konteks lingkungan sekitar.

Pendidikan Anak Usia Dini:
Melalui Fase Fondasi Murid dikenalkan pada pengalaman belajar yang membuatnya memaknai belajar sebagai hal yang menyenangkan, serta memiliki kompetensi dan karakter yang menjadi bekal agar terampil menjalankan kegiatan sehari-hari. Kemampuan fondasi yang dibangun utuh meliputi berbagai aspek perkembangan, tidak hanya berfokus pada baca tulis hitung saja.

Jenjang Pendidikan Dasar:
Melalui Fase A hingga Fase D Murid memiliki kompetensi literasi dan numerasi dasar yang kokoh sebagai pijakan untuk membangun kompetensi selanjutnya.
Karakter yang dibangun menjadi bekalnya dalam menentukan hal yang benar dan salah; serta memberi kemudahan bagi dirinya dalam berinteraksi, berkolaborasi dan berkontribusi dalam berbagai situasi.

Jenjang Pendidikan Menengah:
Melalui Fase E hingga Fase F Pengalaman belajar membangun kemandirian belajar, serta keluwesan dan kedalaman berpikir untuk memahami bagaimana dunia bekerja.
Bagi Sekolah Menengah Kejuruan, kompetensi dan karakter murid dibangun secara lebih spesifik pada konsentrasi keahlian yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja agar lebih siap bekerja setelah lulus.

Setiap murid berhak memiliki kompetensi dan karakter yang diperlukan, untuk saat ini, dan masa depan mereka serta yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Untuk mencapai hal tersebut, sekolah kita harus memiliki:

Yuk, kita perdalam satu per satu!

1. Pembelajaran yang berpusat pada murid.
Pendidik mampu menyediakan proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, melalui interaksi aktif dan empatik, serta memperhatikan kebutuhan belajar murid.

2. Pendidik reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi
Pendidik memahami manfaat dari penerapan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan serta belajar bersama sebagai suatu strategi untuk meningkatkan kompetensi dirinya serta kualitas pembelajaran yang diterima oleh muridnya.

3. Iklim sekolah yang aman, inklusif, dan merayakan kebinekaan.
Iklim lingkungan belajar yang memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi seluruh warga sekolahnya serta membangun sikap positif terhadap keberagaman.

4. Kepemimpinan untuk perbaikan layanan berkelanjutan
Kepemimpinan Kepala Sekolah berperan penting untuk memandu seluruh warga sekolah dalam meningkatkan layanan pendidikan secara berkelanjutan dan bersama-sama.

Setiap sekolah memiliki kecepatan yang berbeda dalam mewujudkan sekolah yang kita cita-citakan karena titik berangkat dan kemampuannya beragam.

Fokus kita bukan pada kecepatan atau jarak yang telah kita tempuh, melainkan pada komitmen bersama untuk terus bergerak maju, demi memastikan pendidikan terbaik bagi setiap anak. Terima kasih sudah turut mengambil peran dalam perjalanan ini.

Mari bergotong-royong, terus bergerak bersama mewujudkan sekolah yang berkualitas melalui proses peningkatan layanan yang berkelanjutan.

Sumber: Modul Sekolah yang dicita-citakan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Februari 2024)

Semoga Bermanfaat.



Label:

Senin, 16 September 2024

Bentuk Pemahaman dalam CP Kurikulum Merdeka


Prinsip penyusunan CP menggunakan pendekatan konstruktivisme yang membangun pengetahuan dan berdasarkan pengalaman nyata dan kontekstual. Menurut teori belajar konstruktivisme (constructivist learning theory), pengetahuan bukanlah kumpulan atau seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah untuk diingat.

Konsep “Memahami” dalam Capaian Pembelajaran (CP) dalam konstruktivisme adalah proses membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata. Pemahaman tidak bersifat statis, tetapi berevolusi dan berubah secara konstan sepanjang siswa mengonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang memodifikasi pemahaman sebelumnya.

Jika mengacu kepada teori konstruktivisme, kemampuan memahami ada di level paling tinggi, berbeda jika mengacu pada Taksonomi Bloom yang menempatkan kemampuan memahami di level C2.


6 Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara untuk mengkonfirmasi pemahaman siswa atas apa yang telah mereka pelajari dan tidak hirarkis/bukan merupakan siklus. 

Jika siswa melakukan salah satu dari keenam Aspek/Facet Pemahaman ini (mampu menjelaskan, menginterpretasi, menerapkan/mengaplikasikan, berempati, memiliki sebuah sudut pandang, atau memiliki pengenalan diri), berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman.

6 Aspek/Facet Pemahaman ini merupakan modal untuk menentukan Tujuan Pembelajaran (TP), menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP),  menentukan asesmen, dan instruksi yang tepat. 6 Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara atau indikator untuk mengkonfirmasi pemahaman siswa atas apa yang telah mereka pelajari. 6 aspek ini tidak hirarkis/bukan merupakan siklus.  

Jika siswa melakukan salah satu dari ke-enam Aspek/Facet Pemahaman ini, berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman. 6 Aspek/Facet Pemahaman ini dapat digunakan untuk membantu menentukan asesmen dan instruksi yang tepat. 

Contoh Penerapannya:




Semoga Bermanfaat.

Label:

Segitiga Restitusi dan Contoh Penerapannya

Segitiga Restitusi adalah sebuah model dalam disiplin positif yang digunakan untuk membantu siswa memahami konsekuensi dari tindakan mereka, bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan, dan mencari solusi untuk memperbaiki situasi. 

Model ini terdiri dari tiga tahap utama:
1. Stabilkan Identitas:
  • Tujuan: Membantu siswa merasa aman dan dihargai, sehingga mereka lebih terbuka untuk menerima konsekuensi dari tindakan mereka.
  • Contoh: Jika seorang siswa menggambar coretan di meja, guru dapat berkata, "Saya tahu kamu tidak sengaja, tapi coretan itu merusak meja. Kita harus mencari cara untuk memperbaikinya."
  • Tips: Gunakan bahasa yang positif dan hindari menyalahkan. Fokus pada tindakan, bukan pada pribadi siswa.
2. Cari Penyebab:
  • Tujuan: Membantu siswa memahami apa yang mendorong mereka untuk melakukan tindakan tersebut.
  • Contoh: Guru dapat bertanya, "Apa yang kamu rasakan saat itu?" atau "Apa yang membuat kamu menggambar di meja?"
  • Tips: Bantu siswa mengidentifikasi emosi yang mereka rasakan. Tanyakan apa yang bisa mereka lakukan untuk menghindari situasi serupa di masa depan.
3. Buat Rencana Tindak Lanjut:
  • Tujuan: Membantu siswa membuat rencana untuk memperbaiki kesalahan dan mencegahnya terulang.
  • Contoh: Guru dan siswa dapat bersama-sama membuat rencana, misalnya membersihkan meja yang dicoret atau membuat gambar baru untuk menghias kelas.
  • Tips: Libatkan siswa dalam membuat keputusan. Pastikan rencana tindak lanjut realistis dan dapat dicapai oleh siswa.
Contoh Penerapan Segitiga Restitusi di Kelas:
  • Situasi: Seorang siswa lupa membawa buku PR.
  • Stabilkan Identitas: "Saya tahu kamu mungkin lupa, tapi buku PR itu penting untuk belajar. Kita harus mencari solusi."
  • Cari Penyebab: "Apa yang membuat kamu lupa membawa buku PR?" (Misalnya, siswa terburu-buru atau tidak memperhatikan tasnya)
  • Buat Rencana Tindak Lanjut: "Bagaimana kalau kamu meminjam buku temanku untuk menyalin PR sekarang, dan besok kamu bawakan buku PR-mu?"
Contoh Lain:
  • Situasi: Dua siswa bertengkar di lapangan.
  • Stabilkan Identitas: "Saya mengerti kalian berdua merasa kesal, tapi berkelahi bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan masalah."
  • Cari Penyebab: "Apa yang menyebabkan kalian bertengkar?" (Misalnya, salah paham atau perebutan mainan)
  • Buat Rencana Tindak Lanjut: "Bagaimana kalau kalian berdua meminta maaf satu sama lain dan berjanji untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik di masa depan?"
Contoh Lain:
  • Situasi: Seorang siswa melupakan tugas kelompok.
  • Stabilkan Identitas: "Saya tahu terkadang kita semua lupa. Tapi tugas kelompok ini penting untuk kita semua. Mari kita cari solusi bersama."
  • Cari Penyebab: "Apa yang membuatmu lupa mengerjakan tugas ini?" (Misalnya, siswa merasa kewalahan dengan banyak tugas)
  • Buat Rencana Tindak Lanjut: "Bagaimana kalau kamu menyelesaikan tugas ini besok dan kita bersama-sama mencari cara agar kamu tidak lupa lagi di masa depan? Mungkin kamu bisa membuat pengingat di kalender atau meminta teman untuk mengingatkanmu."
Manfaat Menerapkan Segitiga Restitusi:
  • Meningkatkan Tanggung Jawab: Siswa belajar untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka.
  • Memperbaiki Hubungan: Membangun hubungan yang lebih baik antara guru dan siswa.
  • Meningkatkan Keterampilan Sosial-Emosional: Siswa belajar mengelola emosi, memecahkan masalah, dan berempati.
  • Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif: Membangun suasana kelas yang lebih kondusif untuk belajar.
Penting untuk diingat:
  • Konsistensi: Terapkan segitiga restitusi secara konsisten pada semua siswa.
  • Fleksibilitas: Sesuaikan pendekatan Anda dengan kebutuhan dan usia siswa.
  • Libatkan Orang Tua: Libatkan orang tua dalam proses restitusi untuk memberikan dukungan tambahan di rumah.
  • Model Perilaku yang Baik: Jadilah contoh yang baik bagi siswa dengan menunjukkan tanggung jawab atas tindakan Anda sendiri.
Semoga Bermanfaat

Label:

Understanding by Design


Understanding by Design pada Kurikulum Merdeka

Capaian Pembelajaran (CP)  dirancang dengan banyak merujuk kepada teori belajar Konstruktivisme dan pengembangan kurikulum dengan pendekatan “Understanding by Design” (UbD) yang dikembangkan oleh Wiggins & Tighe (2005). Dalam kerangka teori ini, “memahami” merupakan kemampuan yang dibangun melalui proses dan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat menjelaskan, menginterpretasi dan mengaplikasikan informasi, menggunakan berbagai perspektif, dan berempati atas suatu fenomena. Dengan demikian, pemahaman bukanlah suatu proses kognitif yang sederhana atau proses berpikir tingkat rendah. 

Memang apabila merujuk pada Taksonomi Bloom, pemahaman dianggap sebagai proses berpikir tahap yang rendah (C2). Namun demikian, konteks Taksonomi Bloom sebenarnya digunakan untuk perancangan pembelajaran dan asesmen kelas yang lebih operasional, bukan untuk CP yang lebih abstrak dan umum. Taksonomi Bloom lebih sesuai digunakan untuk menurunkan/menerjemahkan CP ke tujuan pembelajaran yang lebih konkret. (PPA 2024 hal 17)

Tighe dan Wiggins (2005) tentang enam bentuk pemahaman. Sebagaimana yang disampaikan dalam penjelasan tentang CP, pemahaman (understanding) adalah proses berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar menggunakan informasi untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan. Menurut Tighe dan Wiggins, pemahaman dapat ditunjukkan melalui kombinasi dari enam kemampuan berikut ini:
Dalam CP, “memahami” merupakan kemampuan yang dibangun melalui proses dan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat menjelaskan, menginterpretasi dan mengaplikasikan informasi, menggunakan berbagai perspektif, dan berempati atas suatu fenomena. (Understanding by Design, Wiggins & Tighe (2005))  (PPA 2024 hal 77)


Jika menggunakan teori Tighe & Wiggins (2015), dalam merumuskan tujuan pembelajaran kata “memahami” bukan berarti memahami dalam level 2 pada Taksonomi Bloom. Memahami dalam kategori ini berarti merepresentasikan salah satu atau kombinasi dari enam bentuk di atas, penjelasan, interpretasi, aplikasi, perspektif, empati dan pengenalan diri/refleksi diri. (PPA 2024 h 77).

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. Selanjutnya ...

Terima Kasih

Label:

Keunggulan Kurikulum Merdeka


Keunggulan Kurikulum Merdeka Bagi Siswa, Guru, dan Sekolah

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengeluarkan terobosan baru dengan meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini harapannya bisa memulihkan ketertinggalan pembelajaran pada masa pandemi. 
Jika selama ini proses belajar berpusat pada guru yang kadang membuat para siswa jenuh, maka pada kurikulum baru ini mengubah siswa menjadi pusatnya. Jadi, siswa mengambil peran aktif dalam kelas untuk meningkatkan efektivitas belajar.   
Selain itu, bagi sekolah yang telah siap dari segi infrastruktur hingga sumber daya manusianya, dapat mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Sebelum itu, ketahui terlebih dahulu pengertian dan keunggulan kurikulum ini lebih lanjut. 



Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memungkinkan peserta didik untuk memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan kemampuannya. Bisa dikatakan, kurikulum ini cenderung mengutamakan pembelajaran intrakurikuler. 

Jadi, peserta didik tidak hanya bisa mengambil mata pelajaran (mapel) IPA saja, melainkan juga dapat mempelajari lintas mapel seperti IPS dan sebaliknya. Dengan begitu, peserta didik bisa mendalami konsep dan meningkatkan kompetensinya. 

Selain itu, guru juga mendapat keleluasaan untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas, sambil mempertimbangkan kebutuhan dan lingkungan belajar siswa. 
Sesuai dengan latar belakangnya yang muncul untuk memulihkan pembelajaran khususnya pasca pandemi, Kurikulum Merdeka memiliki beberapa karakteristik antara lain:
  • Berfokus pada materi esensial, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk mendalami konsep kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. 
  • Peserta didik mendapatkan projek untuk mengembangkan soft skills dan karakter yang sesuai profil pelajar Pancasila. 
  • Guru bisa fleksibel menentukan perangkat ajar yang sesuai kebutuhan dan kemampuan peserta didik. 
Pemerintah memang telah meluncurkan kurikulum baru ini pada tahun 2022, namun tidak mengharuskan seluruh sekolah harus mengganti kurikulum belajarnya. Hal tersebut dipengaruhi faktor kondisi dan kesiapan sekolah. 

Bagi sekolah yang telah memenuhi standar, baik dari segi infrastruktur maupun sumber daya manusianya, bisa mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Sebab, kurikulum ini menawarkan sejumlah manfaat baik untuk siswa, guru, hingga sekolah.
 
Keunggulan Kurikulum Merdeka bagi Siswa
Siswa mestinya mendapatkan pendidikan yang mumpuni agar mampu mewujudkan Indonesia maju. Maka dari itu, dengan adanya kurikulum baru yaitu merdeka belajar, siswa harapannya dapat merasakan keunggulan-keunggulan berikut ini. 
 
1. Bebas Meracik Mata Pelajaran
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, peserta didik lebih merdeka memilih mata pelajaran yang mereka minati dan sukai sesuai kompetensi. Kurikulum Merdeka tidak memaksa peserta didik mengambil mata pelajaran yang tidak disukainya. 

Ketika naik jenjang SMA nanti, tidak ada lagi peminatan jurusan IPA atau IPS. Hal itu mencegah siswa terkotak-kotak dalam jurusan IPA atau IPS, sehingga peserta didik lebih leluasa meracik mata pelajaran yang mereka minati dan sukai.
 
2. Sederhana dan Mendalam
Keunggulan kurikulum baru ini bagi siswa adalah sederhana dan mendalam. Jadi, siswa bisa fokus pada materi esensial sesuai dengan tingkat kompetensi siswa di setiap fase. 

Selain itu, siswa tidak perlu buru-buru menguasai suatu mata pelajaran. Dengan begitu, proses pembelajaran akan berlangsung secara menyenangkan, mendalam, dan bermakna. 

3. Lebih Relevan dan Interaktif
Bagi siswa, Kurikulum Merdeka belajar memungkinkan mereka untuk mengerjakan tugas berbasis proyek. Sementara tugas proyek memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplor isu-isu yang relevan dan terjadi belakangan ini. 

Jika siswa terbiasa bekerja secara berkelompok dan berkolaborasi menghasilkan suatu karya yang kreatif, maka akan mendukung pengembangan karakter sekaligus kompetensi sesuai profil pelajar Pancasila dengan cara interaktif. 
 
Keunggulan Kurikulum Merdeka bagi Guru
Bukan hanya siswa yang akan mendapat dampak positif dari kurikulum baru. Melainkan, para guru yang menjadi tenaga pendidik juga akan merasakan deretan keunggulan merdeka belajar sebagaimana berikut ini. 
 
1. Bebas Menentukan Perangkat Ajar
Jika siswa bebas menentukan mata pelajaran yang mereka minati, maka guru juga merasakan kebebasan untuk menentukan perangkat ajar menyesuaikan kebutuhan dan kompetensi siswa. 

Setiap peserta didik pastilah memiliki karakteristik yang berbeda. Jadi, guru bisa lebih leluasa memilih perangkat ajar yang cocok agar dapat diterima dengan baik oleh siswanya. 
 
2. Meningkatkan Kreativitas Mengajar
Kurikulum Merdeka secara tidak langsung menantang para guru untuk meningkatkan kreativitasnya dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan. 

Pasalnya, mereka bisa menentukan perangkat ajar sesuai kebutuhan peserta didik. Namun, guru harus memastikan bahwa perangkat ajar tersebut menarik sehingga dapat memancing siswa berperan aktif dalam kelas. 
 
3. Lebih Merdeka
Jika selama ini guru terus berpacu berusaha mengejar capaian materi, sambil mengabaikan siswa yang ketinggalan pelajaran, maka kurikulum ini membuat guru lebih merdeka. 

Mengapa demikian? Karena para guru dapat mengajar dengan bebas sesuai tahap pencapaian dan perkembangan peserta didik. 
 
Keunggulan Kurikulum Merdeka bagi Sekolah
Setelah mengetahui apa saja keunggulan Kurikulum Merdeka dari segi siswa dan guru, berikutnya adalah keunggulan yang akan sekolah rasakan ketika mengimplementasikan kurikulum baru ini. 

Pada dasarnya, ada beberapa poin yang sekolah dapatkan dari menerapkan merdeka belajar. Berikut beberapa keunggulannya:
  • Sekolah memiliki hak untuk mengembangkan, mengelola kurikulum, serta menentukan sistem pembelajaran yang sesuai karakteristik sekolah tersebut. 
  • Sekolah memperoleh pendampingan dari pemerintah karena telah menerapkan kurikulum ini. 
  • Sekolah dapat mengukur tingkat kesiapannya sendiri dalam mengimplementasikan kurikulum ini. 
Kelebihan Kurikulum Merdeka
Setiap kurikulum pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan Kurikulum Merdeka. Berikut beberapa kelebihan kurikulum baru dibandingkan kurikulum sebelumnya. 
 
1. Alokasi Jam Pelajaran
Perhitungan waktu jam pelajaran atau JP pada kurikulum baru berdasarkan hitungan per tahun. Tidak seperti kurikulum sebelumnya yang perminggu. 
 
2. Tidak Ada Peminatan
Pada jenjang SMA atau sederajat, tidak ada lagi keharusan untuk memilih satu peminatan baik IPA, IPS, maupun bahasa. Jadi, kurikulum baru ini membebaskan peserta didik untuk memilih mata pelajaran sesuai minatnya. 
 
3. Fleksibilitas Mengajar
Tidak seperti Kurikulum 2013, pada kurikulum baru ini guru lebih fleksibel mengajar. Karena guru mendapatkan hak untuk menentukan sendiri perangkat ajar yang cocok. 

Itulah keunggulan Kurikulum Merdeka yang dapat kita pahami. Setiap sekolah menerapkan kurikulum yang berbeda sesuai tujuannya masing-masing. Jadi, kita juga perlu memikirkan dengan matang sekolah anak sesuai kurikulum yang ada. 

Sumber: https://sekolahchis.com/
 

Label:

Minggu, 15 September 2024

Perencanaan Pembelajaran Kurikulum Merdeka


Perencanaan Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Perencanaan pembelajaran merupakan aktivitas untuk merumuskan: 1) capaian pembelajaran yang menjadi tujuan belajar dari suatu unit pembelajaran; 2) cara untuk mencapai tujuan belajar; dan 3) cara menilai ketercapaian tujuan belajar. Pembelajaran adalah kegiatan belajar yang diselenggarakan dalam suasana belajar; interaktif; inspiratif; menyenangkan; menantang; memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Sementara asesmen adalah aktivitas selama proses pembelajaran untuk mencari bukti ketercapaian tujuan pembelajaran. (PPA 2024 hal.iii).

Perencanaan pembelajaran merupakan aktivitas untuk merumuskan tujuan, langkah atau kegiatan, dan asesmen pembelajaran, serta aspek lain yang menunjang pelaksanaan pembelajaran. (PPA 2024 hal.1)

Pembelajaran diawali dengan penyusunan perencanaan pembelajaran dan perencanaan asesmen. Pendidik perlu merancang asesmen yang dilaksanakan pada awal, proses, dan akhir pembelajaran. Perencanaan asesmen, terutama pada asesmen awal pembelajaran perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, sehingga rancangan pembelajaran sesuai dengan tahap capaian peserta didik. (PPA 2024 hal.4)

Perencanaan pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, langkah atau kegiatan pembelajaran, dan asesmen pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun dalam bentuk dokumen yang fleksibel, jelas, dan sederhana. (PPA 2024 hal.4)

Berdasarkan alur tujuan pembelajaran yang telah disusun, pendidik dapat memilih tujuan pembelajaran untuk dikembangkan menjadi perencanaan pembelajaran. (PPA 2024 hal.12)

Pendidik diharapkan berupaya untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan dokumen perencanaan pembelajaran secara mandiri sesuai dengan konteks dan karakteristik peserta didik. (PPA 2024 hal.12)

Perencanaan pembelajaran dirancang untuk memandu pendidik melaksanakan pembelajaran sehari-hari untuk mencapai tujuan pembelajaran. Rencana pembelajaran disusun berdasarkan alur tujuan pembelajaran. (PPA 2024 hal.21)

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. Selanjutnya ...

Terima Kasih

Label:

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)


Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Kurikulum Merdeka.

Asesmen sumatif dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen sumatif digunakan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran. (PPA 2024 h-5).

Pendidik menentukan kriteria ketercapaian dan menyampaikannya pada peserta didik, sehingga mereka memahami ekspektasi yang perlu dicapai. (PPA 2024 h-8).

Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. (PPA 2024 h-28).

Untuk mengetahui apakah peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun modul ajar. (PPA 2024 h-29).

Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen, karena belum tentu suatu asesmen sesuai dengan tujuan dan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/didemonstrasikan peserta didik sebagai bukti (evidence) bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran. (PPA 2024 h-29).

Ketercapaian tujuan pembelajaran tidak disarankan untuk menggunakan angka mutlak (misalnya 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria. Yang paling disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan, pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai (misalnya 70-85, 85-100, dan sebagainya). Penetapan angka interval diperoleh berdasarkan ciri/kriteria, atau deskripsi dalam rubrik penilaian. Dengan kata lain, sebelum Pendidik menetapkan angka pada interval nilai, pendidik perlu terlebih dahulu menetapkan kriteria atau deskripsi ketercapaian. (PPA 2024 h-29).

Dengan demikian, kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan pendidik dengan menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya: 1. menggunakan deskripsi kriteria; 2. menggunakan rubrik; 3. menggunakan skala atau interval nilai; 4. menggunakan persentase, atau pendekatan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan pendidik dalam mengembangkannya. (PPA 2024 h-29).

Contoh: Para pendidik menyepakati bahwa rentang nilai 0-55 belum masuk kategori ketercapaian dan 56-100 sudah masuk kategori ketercapaian. Penentuan rentang angka ini dapat merujuk pada BAB III. Sebelum menyepakati rentang nilai, pendidik terlebih dahulu menentukan kriteria/indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa Pendidik membuat kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, bukan hanya berupa angka. (PPA 2024 h-48)

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. Selanjutnya ...

Terima Kasih

Label:

Asesmen Formatif Kurikulum Merdeka


Asesmen Formatif Kurikulum Merdeka

Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen formatif dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai peserta didik yang mengalami hambatan atau kesulitan belajar dan perkembangan belajar peserta didik. 

Informasi tersebut digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam memonitor proses dan kemajuan belajar sebagai bagian dari keterampilan belajar sepanjang hayat. Sedangkan bagi pendidik hasil asesmen digunakan untuk merefleksikan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal dan saat pembelajaran. Asesmen pada awal pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam kaitannya dengan tujuan pembelajaran tertentu, sehingga pendidik bisa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. 

Asesmen formatif pada saat pembelajaran digunakan sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap keseluruhan proses belajar yang dapat dijadikan acuan untuk perencanaan pembelajaran dan melakukan revisi apabila diperlukan. Apabila peserta didik dirasa telah mencapai tujuan pembelajaran, maka pendidik dapat meneruskan pada tujuan pembelajaran berikutnya. Namun, apabila tujuan pembelajaran belum tercapai, pendidik perlu melakukan penguatan terlebih dahulu. (PPA 2024 hal 4).

Asesmen formatif, yaitu asesmen yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi pendidik dan peserta didik untuk memperbaiki proses belajar. Asesmen formatif berupa:
  • Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Asesmen ini termasuk dalam kategori asesmen formatif karena ditujukan untuk kebutuhan pendidik dalam merancang dan menyesuaikan pembelajaran, tidak untuk keperluan penilaian hasil belajar peserta didik yang dilaporkan dalam rapor.
  • Asesmen di dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan sekaligus pemberian umpan balik yang cepat. Biasanya asesmen ini dilakukan sepanjang atau di tengah kegiatan/langkah pembelajaran, dan dapat juga dilakukan di akhir langkah pembelajaran. Asesmen ini juga termasuk dalam kategori asesmen formatif.
Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar, hambatan atau kesulitan yang dihadapi peserta didik. Asesmen formatif juga digunakan untuk memperoleh informasi perkembangan peserta didik dalam proses pembelajaran. Informasi tersebut merupakan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik. (PPA 2024 hal 26).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pendidik dalam merancang asesmen formatif, antara lain sebagai berikut :
  • tidak berisiko tinggi. Asesmen formatif dirancang untuk tujuan pembelajaran dan tidak seharusnya digunakan untuk menentukan nilai rapor, keputusan kenaikan kelas, kelulusan, atau keputusankeputusan penting lainnya.
  • menggunakan berbagai teknik dan/atau instrumen. Asesmen formatif dapat dilakukan dengan teknik observasi, atau menggunakan instrumen asesmen diri, dan asesmen antar teman.
  • dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga asesmen formatif dan pembelajaran menjadi suatu kesatuan.
  • dapat menggunakan metode yang sederhana, sehingga umpan balik hasil asesmen tersebut dapat diperoleh dengan cepat.
  • Asesmen formatif yang dilakukan di awal pembelajaran akan memberikan informasi kepada pendidik tentang kesiapan belajar peserta didik. Berdasarkan asesmen ini, pendidik perlu menyesuaikan/memodifikasi rencana pelaksanaan pembelajarannya dan/atau membuat diferensiasi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
  • Instrumen asesmen yang digunakan dapat memberikan informasi tentang kekuatan, hal-hal yang masih perlu ditingkatkan oleh peserta didik dan mengungkapkan cara untuk meningkatkan kualitas tulisan, karya atau performa yang diberi umpan balik. Dengan demikian, hasil asesmen tidak sekadar sebuah angka. PPA 2024 hal. 27
Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. Selanjutnya ...

Terima Kasih